Kesetiaan Kakek dan Nenek Itu Membuka Mataku
HL | 04 January 2012 | 06:40
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Seseorang bercerita kepadaku tentang kisah keluarganya. Berikut aku ringkaskan penuturannya:
“Cukup lama aku berusaha meyakinkan isteriku,
bahwa aku harus menikah lagi. Sangat banyak alasan logis yang
mendorongku untuk mengambil keputusan itu. Bagiku, itu bukan keputusan
yang mudah. Aku sangat mencintai isteriku, namun aku juga tidak bisa
melawan keinginan yang sangat kuat untuk segera menikah lagi.
Bukan, bukan karena aku sudah jatuh cinta
kepada seorang perempuan. Aku bahkan tidak mempunyai calon isteri baru,
karena itu tidak terlalu penting bagiku. Yang aku perlukan hanya
kerelaan isteriku untuk mengerti dan memahami keputusanku itu. Aku
berpikir rasional, bahwa jika aku menikah lagi, tidak boleh mencederai
keindahan hubungan dengan isteri pertama dan anak-anakku.
Aku harus mendapat
dukungan penuh dari isteriku, agar bisa menjelaskan dan memahamkan
semua pihak tentang keputusanku ini. Terlebih kepada anak-anakku, jika
kelak mereka bertanya mengapa aku beristeri dua. Lebih tepat dijawab
oleh isteriku, bukan oleh aku. Demikian juga saat harus menjelaskan
keputusan ini kepada pihak keluarga besarku dan keluarga besar isteriku.
Rasanya akan lebih mudah mereka terima, apabila penjelasan itu datang
dari isteriku.
Jika aku yang harus menjelaskan sendiri semua pertanyaan
orang tentang keputusanku untuk poligami, akan tampak sebagai sebuah
pembelaan diri dan pembenaran sepihak dariku yang memiliki kepentingan.
Orang akan mengatakan kepadaku, “Dasar laki-laki”. Sebenarnya bukan
ketakutan akan mendapat jawaban seperti itu yang membuatku mengharap
dukungan dari isteriku, namun lebih kepada sebuah harapan kebaikan.
Kalau orang akan berkata jelek kepadaku, itu hak mereka. Namun aku
sangat berharap isteriku tidak memiliki pikiran jelek kepadaku.
Walau cukup susah dan memerlukan
waktu yang lama, namun akhirnya aku berhasil juga mendapat dukungan
isteriku. Aku memahami keberatannya, karena memang itu merupakan sesuatu
yang rumit bagi dirinya. Aku sabar menunggu kerelaan hatinya, agar
ketika ia mendukung keputusanku, tidak karena sebab-sebab paksaan atau
ancaman ketakutan dariku. Aku tidak menakut-nakutinya dengan perceraian,
aku juga tidak mengancamnya dengan cara apapun. Aku hanya menjelaskan
berbagai alasan logis kepadanya.
Luar biasa. Akhirnya perjuangan panjangku
membuahkan hasil. Isteriku memberikan dukungan penuh kepadaku, sembari
memberikan banyak catatan dan persyaratan. Tidak masalah bagiku. Aku
merasa bisa memenuhi berbagai catatan dan persyaratan yang ia ajukan.
Soal pembagian hari, soal pembagian nafkah sehari-hari,
soal perhatian, soal hubungan dengan orang tua, mertua dan anak-anak.
Insyaallah aku akan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya.
Selesai sudah bab pertama, yaitu tentang
kerelaan dan dukungan isteri. Sekarang memasuki bab kedua dari proses
ini: siapa yang akan aku nikahi? Bagiku ini lebih mudah daripada bab
pertama tadi. Tentang siapa orangnya bukanlah hal
yang rumit bagiku, karena aku tidak memiliki syarat-syarat tertentu
atau kriteria tertentu. Aku tahu ada banyak gadis yang umurnya sudah
cukup tua, di atas tigapuluh lima tahun, yang belum mendapatkan jodoh.
Aku juga tahu ada banyak janda yang memerlukan suami untuk meneruskan
kehidupan mereka dan membersamai pendidikan anak-anak mereka.
Aku ajak isteriku membahas bab kedua ini. Aku
tanyakan apakah ia memiliki teman atau kenalan, yang bisa ia ajukan
sebagai calon isteri keduaku. Kami berbincang tentang berbagai nama,
kami diskusikan kelebihan dan kekurangannya. Aku berharap, isteri kedua
harus bisa diterima oleh isteri pertamaku. Akhirnya sampailah kami
kepada nama yang menjadi alternatif pertama untuk menjadi isteri
keduaku. Isteriku rela, dan akupun menerima.
Langkah berikutnya adalah menghubungi dan
melakukan pendekatan kepada perempuan tersebut. Mencoba menjajagi apakah
ia mau menjadi isteri kedua, mengingat usianya yang sudah cukup tua dan
belum mendapatkan jodoh. Aku bersyukur, isteriku bersedia melakukan
upaya itu. Ia yang akan menghubungi dan menjajagi kemungkinan perempuan
itu mau menjadi isteri keduaku.
Selagi kami berproses meneruskan langkah ini,
tiba-tiba aku merasakan sakit di bagian perut. Belum pernah aku
merasakan sakit seperti ini. Sepertinya bukan sakit perut biasa.
Akhirnya aku memeriksakan diri ke dokter di rumah sakit, yang ternyata
langsung direkomendasikan untuk bedrest.
Apa boleh buat, aku harus bedrest di rumah
sakit untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih intensif dan sekaligus
bisa istirahat. Beberapa waktu belakangan ini memang volume pekerjaanku
sangat banyak. Menyita banyak waktu dan energi, terlebih lagi aku sangat
kurang istirahat.
Rumah sakit rujukan di daerahku ternyata
sangat padat saat itu. Ruang VIP sudah penuh terisi pasien, ruang kelas
utama juga sudah penuh semua. Tinggal tersedia ruang kelas dua. Akhirnya
aku harus mendapatkan jatah perawatan di bangsal kelas dua. Artinya,
dalam satu bangsal akan ada dua bed untuk dua pasien. Sesungguhnya aku
merasa kurang nyaman, karena kurang ada privasi. Terlebih lagi aku tidak
tahu siapa pasien yang akan bersama aku di bangsal itu nanti.
Saat dibawa menuju bangsal, ternyata di
dalamnya sudah ada pasien yang juga tengah dirawat. Seorang kakek yang
terbaring sakit, ditunggui oleh isterinya, nenek yang juga sudah tua.
Dari penampilannya, sekilas aku memperkirakan usia nenek sudah di atas
tujuhpuluh tahun. Mungkin bahkan sudah delapan puluh tahun. Aku segera
berbaring di bed yang disediakan untukku.
Nenek itu ternyata sangat ramah. Ia
menjengukku dan menanyakan sakitku. Akupun menjawab dengan sopan dan
membalas dengan pertanyaan serupa, sakit apa kakek hingga dirawat di
bangsal ini. Ia bercerita panjang lebar, sejak awal sakitnya si kakek,
hingga dibawa bedrest di rumah sakit. Sudah seminggu kakek berbaring di
rumah sakit dan selalu ditunggui oleh nenek.
“Apa tidak ada anak atau cucu yang bisa bergantian menunggui kakek?” tanyaku.
“Anak-anak dan cucuku sudah menawarkan untuk
menunggi kakek. Tapi aku ingin menungguinya sendiri. Dari dulu aku
selalu merawatnya”, jawab nenek.
“Jadi nenek selalu menunggui kakek di bangsal ini?” tanyaku.
“Iya nak, sudah seminggu ini aku tidak pulang. Kakek juga lebih senang kalau aku tunggui”, jawabnya.
Tiga hari aku menjalani perawatan dan
pemeriksaan medis di rumah sakit. Setiap hari aku menyaksikan kesetiaan
seorang nenek dalam melayani dan menjaga suaminya. Ia buatkan teh panas
kesukaan suaminya, ia tuntun si kakek ke kamar mandi, ia bantu kakek
memakai baju, ia siapkan obat-obat untuk diminum kakek secara rutin, ia
suapi kakek ketika tiba jam makan. Tampak betapa kakek dan nenek itu
hidup dalam hubungan yang sangat setia.
Sedangkan aku lebih memilih untuk sendirian
ketika malam hari. Aku tidak tega isteriku tidur di bangsal yang sempit
ini, terlebih lagi ia harus mengurus anak-anak di rumah untuk keperluan
sekolah dan makan mereka. Siang hari saja isteriku datang dan
menungguiku, hingga sore. Selebihnya aku lebih suka sendiri, toh ada
perawat yang bisa membantu semua keperluanku. Biar isteriku menemani
anak-anak di rumah.
Setiap hari nenek memberikan kue dan
buah-buahan ke meja di samping tempat berbaringku. Bahkan nenek sering
menawariku untuk membuatkan minuman yang aku inginkan. Namun aku selalu
menolaknya. Ia sungguh perempuan yang sangat baik hati.
Hari keempat aku diperbolehkan meninggalkan
rumah sakit. Alhamdulillah, lega sekali rasa hatiku, bisa keluar dari
“ruang pengap” bangsal ini. Rasanya dunia demikian indah saat aku
meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah. Tak lupa aku berpamitan
kepada kakek dan nenek, sembari mendoakan agar kakek segera diberi
kesembuhan.
“Semoga anak juga cepat pulih dan kembali ke keluarga”, pesan nenek.
“Kapan nenek pulang?” tanyaku bercanda.
“Aku tak akan pulang tanpa kakek, nak” jawabnya. Sudah aku duga.
Aku meninggalkan rumah sakit setelah
menyelesaikan semua urusan administrasi. Dalam perjalanan pulang, aku
masih selalu terkenang oleh kakek dan nenek di bangsal itu. Sebuah
gambaran kesetiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Empat hari empat malam aku satu bangsal
dengan kakek dan nenek itu, belum pernah aku dengar suara bentakan
mereka. Kakek bahkan tidak banyak bicara. Nenek yang lebih banyak
bicara. Tidak ada suara dan nada kasar dari kakek ataupun dari nenek.
Bahkan sesekali terdengar nenek bercanda yang membuat kakek tertawa
kecil. Sungguh, mereka adalah pasangan setia hingga usia senja.
Sesampai di rumah aku tidak segera
beraktivitas. Aku masih harus banyak istirahat. Sungguh aku masih sangat
terpesona oleh kesetiaan nenek kepada suaminya di bangsal itu. Ia
menjaga suaminya yang berbaring lemah. Sendiri saja. Sesekali waktu anak
dan cucunya berdatangan menjenguk, namun segera mereka pulang lagi.
Sesekali tetangga dan kerabat datang menjenguk kakek, sebentar kemudian
mereka juga pulang. Tinggallah nenek sendiri menunggui suami.
Entah sampai kapan mereka berdua berada di
bangsal pengap itu. Dokter belum memberi keterangan sampai kapan boleh
pulang. Nenek tetap setia. Aku belum pernah mendengar nenek mengeluh
tentang urusan ini. Luar biasa kesabarannya.
Malam pertama aku pulang ke rumah, bayangan
kesetiaan nenek itu demikian lekat di benakku. Aku segera membandingkan
dan membayangkan diriku sendiri. Kelak ketika aku sudah tua, seperti
kakek itu, apakah isteri masih akan tetap setia kepadaku? Apakah aku dan
isteriku tetap bisa berada dalam hubungan yang demikian intim dan
hangat?
“Dik, engkau ingat nenek dan kakek di bangsal itu?” tanyaku.
“Iya, aku mengingatnya. Nenek itu sangat ramah kepadaku. Ia perempuan yang sangat baik”, jawab isteriku.
“Apakah kelak ketika aku sudah tua, engkau akan menjagaku seperti nenek itu?” tanyaku.
“Aku akan tetap menjagamu seumur hidupku”, jawab isteriku pendek.
Aku menangis. Segera kupeluk erat isteriku.
Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa menangis. Mungkin karena kondisi
fisikku yang belum terlalu pulih setelah menjalani perawatan selama
empat hari di rumah sakit. Mungkin karena aku masih terobsesi oleh
kesetiaan nenek di bangsal itu kepada suaminya.
Malam berlalu. Esok pagi terasa sejuk bagiku.
Bangun berpagi-pagi untuk menunaikan shalat Subuh. Aku belum bisa ke
masjid. Aku shalat di rumah dengan isteri dan anak-anakku. Berjamaah.
Nyaman sekali rasa hatiku, merasa memiliki isteri yang setia, dan
anak-anak yang meneteramkan jiwa. Aku memimpin doa usai shalat subuh:
Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar…
Rabbana hablana min azwajina, wa dzurriyatina qurrata a’yun, waj’alna lil muttaqina imama…
Pagi hari ini hatiku sudah sangat mantap.
Sudah bulat. Aku tidak akan meneruskan proses pernikahan keduaku. Aku
sudah berjanji akan hidup hanya dengan isteriku ini, satu-satunya. Tidak
perlu ada isteri lainnya lagi.
Siang nanti, setelah anak-anak berangkat sekolah, aku akan menyampaikan keputusanku ini kepada isteriku…..”
nDalem Mertosanan, 4 Januari 2012